السبت، 23 أغسطس، 2008

JALAN MENUJU ALLOH

JALAN MENUJU ALLOH[1]

A.PROLOG

Kewajiban seorang hamba selagi masih hidup dan berakal adalah menghambakan dirinya pada Al Haq Azza Wajalla sebagai bentuk wujud loyalitas seorang mahluk pada Al kholiq dengan mencurahkan segala prilaku dan perbuatannya sesuai dengan hukum yang telah ditetapkan Alloh SWT sebagai dogma yang harus diterima dan diimplementasikan dalam wujud kehidupannya sehari-hari sebagai pedoman hidup, agar Ia tetap survif dan eksis ditengah-tengah kehidupannya penuh dengan makna dan arti, yaitu dengan melaksanakan perintah dan larangannya secara kontinuitas.Dalam meniti menuju Al Kholiq seorang hamba tidak cukup dengan amal dhohir semata, maka disini dibutuhkan amal Qolbiyyah sebagai pendukung untuk lebih cepat sampai padanya yang disebut Wusul Ila Alloh, disamping ia harus membangun hubungan vertikal kepada Alloh SWT dan Horisontal pada sesama mahluk yang baik, yang mana itu adalah sebagai balancing dalam tatanan kehidupannya sebagai mahluk social yang saling membutuhksn dan berinteraksi antara yang satu dengan yang lain, disisi lain adalah sebagai kewajibannya beribadah kepada Al kholiq selaku penciptanya sebagai haq Alloh yang harus dipenuhi.
Alloh adalah tujuan terakhir bagi setiap hamba, sebagai kekasih dan pujaan hakiki dimanapun dan kapanpun Ia berada, baik susah maupun senang, baik di dunia maupun akherat, Alloh selalu bersama hambanya, yang mengawasi, memberi petunjuk serta memberi pertolongan. Ia maha tahu apa yang dilakukaan dan diiginkan hambanya. Oleh karena itu tidak ada kenikmatan yang lebih besar kecuali menyaksikan Al haq jalla fi ula baik di dunia maupun setelah datangnya ajal kematian. Maka Untuk memasuki gerbang ilahi menyaksikan Al haq tajjali perlu dibutuhkan yang namanya syari’at, thorikot, serta haqiqot sebagai instrument yang saling melengkapi antara yang satu dengan lainnya menuju daerah ilahiyyah. Untuk itu perlu kiranya kita mengetahui apa itu syari’at, thorikot dan haqiqot.

I. SYARI’AT

الشريعة هى الأخذ والإتباع لدين الله تعالي والإمتثال للمأمورات والإجتناب عن المنهيات

Syari’at adalah mengambil ( melaksanakan ) dan mengikuti agama Alloh SWT dengan menjalankan perintah-perintah dan menjauhi larangan-larangannya.

Agama Alloh dijabarkan dalam tiga hal yang kesemuanya fardlu ain untuk dipelajari yaitu 1. العلم الذي يصحح العقيدة
( ilmu yang membawa aqidah menjadi benar disebut ilmu tauhud ).
2. العلم الذي يصحح العبادة
) ilmu yang membawa ibadah menjadi benar di sebut ilmu fiqih )
3. العلم الذي يصحح القلب
( ilmu yang membawa hati menjadi baik disebut ilmu tasawwuf )[2]


MAKNA TASAWWUF DAN SUFI

Ketika Sayyid Imam Qutbi Al Irsyad Habib Abdulloh bin Alawi Al Haddad di tanya tentang sufi dan tasawwuf, dan apakah yang dilakukan seseorang sehingga ia disebut sufi. Kemudian beliau menjawab, Assufi adalah sebagaimana dikatakan oleh sebagian para Arifin :seseorang yang bersih dari kotor dan penuh dengan tauladan dan mencukupksn Alloh dari manusia dan sama menurut pandangannya antara emas dan tanah liat. Sedang tasawwuf adalah keluar dari ahlak tercela masuk pada akhlak terpuji.[3]
Seseorang yang bersih amalnya, perkataannya dan niatnya, bersih akhlaqnya dari bercampur riya’ dan bersih segala sesuatu yang dimurkai Alloh dengan menyongsong Alloh dengan dhohir dan bathinnya serta ketaatannya pada Alloh dengan berpaling pada selain Alloh, memutus rintangan-rintangan yang menyibukkan, dengan membersihkan perkara ini dari keluarnya harta, syahwat dan hawa nafsu, yang mana semua itu disertai dengan ilmu dengan mengikuti Al kitab dan As Sunnah serta petunjuk Salafus sholeh, maka itu dinamakn Sufi kamil.
Sebagian Al muhaqqiqin berkata : sufi adalah orang yang alim mengamalkan ilmunya karena ikhlas, maka Alloh menumbuhkannya memberikan ilmu yang tidak ia mengerti dan Alloh memulyakannya dengan memberi pengertian atas hal-hal yang rumit dalam syareat serta rahasia syare’at.[4]

Attasawwuf Khusnul Khuluq

Tasawwus pada hakekatnya adalah berisikan tentang tatakrama dan akhlak terpuji sebagaimana dikatakan Imam Ali Hasan Al Attos,” tasawwus pada hakikatnya terdapat pada dua perkara yaitu selamatnya hati dan murah hati. Yang kedua budi pekerti yang bagus[5]. Mereka ahli tasawwuf berkata tasawwus semuanya budi pekerti yang bagus, barang siapa yang tambah atas kamu budi pekerti maka bertambahlah pada kamu tasawwuf. Budi pekerti yang bagus tercakup dalam tiga hal :” tidak menyakiti, rendah hati dan wajah berseri.

Attasawwuf mengarah pada Al Haq dan Mahluk

Attasawwuf adalah akhlak yang terpuji yang harus dilakukan oleh seorang hamba baik ketika interaksinya bersama Alloh maupun sesama mahluk. Imam Al ghozali Rohimakumullah berkata : Ketahuilah sesungguhnya taswwuf mempunyai dua pekerti : Istiqomah bersama Alloh dan berdiam bersama mahluk.barang siapa yang istiqomah dengan Alloh dan berbuat bagus ahlaknya terhadap manusia dan berlaku pada mereka dengan sabar dan memaafkan maka dia dinamakan sufi[6].

II. THORIQOT
الطريقة هي الأخذ بالأحوط في سائر الأعمال

Thoriqoh adalah mengambil ( melaksanakan ) agama dengan sangat waspada dan berhati-hati di dalam semua amal perbuatan[7]. Diantara sikap sangat waspada berhati-hati dalam menjalankan adalah sifat waro’ dan azimah seperti riyadloh. Menurut Imam Abul Qosim Al Qusairi, waro’ adalah meninggalkan hal-hal yang bersifat shubhat[8]. Sedangkat Azimah menurut bahasa adalah tujuan yang sangat kuat, yang dimaksudkan adalah bersungguh-sungguh dan sabar atas masalah-masalah yang berat menurut nafsu yang bertentangan dengan hawa nafsu. Seperti riyadloh yaitu mendorong nafsu untuk melakukan amal-amal yang dituntut akhlak budi yang bagus seperti terjaga pada waktu malam hari, mampu menahan lapar, zuhud, jujur, uzlah, meninggalkan barang yang disenangi nafsu dan lain-lain, yaitu semua sifat dan perilaku yang bisa mendekatkan diri pada Alloh SWT.
Sedangkan thoriqot menurut ahli haqiqot adalah ibarat atas ketentuan Alloh dan hukum-hukun taklif yang tidak ada keringanannya, khususnya bagi salik kepada Alloh dengan memutus derajat, kenaikan pangkat serta kedudukan. Syarif Al Jurjani berkata : Atthoriq adalah tempat letaknya emas sedang ilmu disebut syari’at sedang amal dengan ilmu disebut thorikot . Awal thoriq berjalan dengan kepayahan dan kerja berat yang pada akhirnya mendapat kemenangan atas segala sesuatu yang diharapkan.
Thoriqot menuju Alloh sangatlah banyak dan berbeda-beda oleh karena itu masing-masing mempunyai thoriqot yang dipilih untuk bisa sampai pada Alloh seperti :
sebagian orang sufi ada yang yang thoriqotnya mendidik masyarkat dengan cara memberikan petunjuk untuk beribadah kepada Alloh dan berakhlak mulia.
ada yang thoriqotnya memperbanyak aurot ( amalan-amalan ibadah ) seperti sholat, puasa, membaca Al Qur’an, membaca tasbih dan lain-lain, thoriqot ini adalah thoriqohnya Al mutajarridin Lil ibadah ( orang-orang yang kehidupannya melulu untuk beribadah ) dan thoriqohnya As Shodikin.
ada yang thoriqohnya melayani Fuqoha’, As Shufiyyah dan Ahluddin.
Ada yang thoriqohnya mencari kayu bakar dari hutan, mencari ikan di laut kemudian ia menjualnya ke pasar dengan niat hanya untuk shodaqoh. Amal ibadah ini adalah ibadah yang sangat bermanfaat karena hal ini menjadi sarana untuk memperoleh barokah doanya orang muslim.
Imam Abdullah bin Alawi Al Haddad berkata jalan tasawwuf walaupun banyak ( bermacam-macam ), maka sesungguhnya itu adalah satu jalan yaitu memerangi nafsu dan keluar dari sifat yang mengajak pada nafsu dan ini adalah perkara yang sulit[9]. Sebagaimana juga Imam Abu Hasan As Syadzili RA, berkata : thoriqoh tidaklah dengan cara biarawan, tidak juga dengan makan gandum dan tepung tetapi dengan sabar, yakin dan petunjuk hidayah[10].

III. HAQIQOT

الحقيقة هي وصول السالك للمقصود وهو معرفة الله سبحانه وتعالى ومشاهدة نور التجلي

Haqiqot adalah telah sampainya salik ( orang yang menuju Alloh SWT ) kepada yang dimaksud yaitu ma’rifatullah dan menyaksikan nur tajalli. Imam Al Ghozali berkata : Tajalli adalah nur dari suatu yang ghaib yang dibukakan dalam hati[11].
Menurut Abu Al Qosim Al Qusyairi Syari’at adalah menerima perintah untuk melaksanakan pengabdian kepada Alloh secara kontinyu, sedang haqiqot adalah melihat dengan hati akan sifat-sifat ketuhanan[12]. Maka disinilah rasa sadar penuh seorang hamba dalam pengakuan dirinya bahwa ia adalah orang yang hina dan rendah disisi Alloh, harta jabatan yang ada disekelilimgnya hanyalah titipan semata yang sewaktu-waktu akan diambil kembali oleh Alloh, oleh karena itu Ia menyongsong panggilan tuhannya berupa melaksanakn perintah maupun menjauhi laranannya dengan hati yang saliim, dengan memandang sifat-sifat keagungan Alloh SWT.
Sebagaimana juga Sayyid Abdulloh bin Alawi Al Haddad ketika ditanya apakah makna berjalan menuju Alloh, kemudian beliau menjawab, makna berjalan menuju Alloh ( السير ) ialah membersihkan hati dan anggota badan dari akhlak dan perbuatan yang tercela ( mungkar ),dengan begitu seorang hamba kepada Alloh menjadi dekat ma’nawiyyah. Tetkala ia lebih banyak membersihkan membagusi diri Maka ia akan merasa lebih hina serta lebih dekat kepada Alloh dan juga semakin cepat melewati maqomat-maqomat ( derajat kedudukan ) dengan haliahnya tidak dengan ilmu dan bentuk luarnya.
Sedang thorikot adalah berbuat ( beramal ) sesuai dengan yang dimaksudkan syari’at Alloh melalui lisan Nabinya SAW. Apa yang disyari’atkan Alloh dinamakan syari’at, begitu juga ilmu yang disyari’atkan, maka sesungguhnya dinamakn syari’at juga. Dan beramal dengan ilmu tersebut dinamakan thoriqot, sedangkan hasil buahnya berupa menghadap dzat yang Haq dan berhenti pada haqqul yaqin . orang yang telah sampai pada Alloh yaitu orang yang telah sampai dengan dengan mengerti Alloh pada batas dimana ilmu ‘Ulama’tidak dapat menembusnya ( ilmu Ulama’ telah habis dari mahluknya )[13]. Ahli derajat ini berbeda-beda dengan tanpa terbatas. Kemudian orang yang wasil sampai pada derajat ini ada dua, diantara salah satunya dinamakan Al Jam’u yaitu tenggelam dalam menyaksikan sifat-sifat bagus serta kemulyaan Alloh, sedang yang lain dinamakan Al Farq yaitu menyaksikan mahluk, maka tetkala Al Arif Billah sampai pada Halatu Al Jam’i hilanglah dirinya serta lainnya dari bangunan jenisnya dan tenggelam dengan Robnya, dan hilang darinya semua rasa malu tidak terbersit diwaktu itu, tidak ada wujud yang tampak kecuali wujud Al Haq Azza Wajalla. Di waktu maqom Al Jam’u ini isyarah perkataan nabi : “Aku mempunyai waktu yang tidak cukup banyak kecuali dengan tuhanku. Kemudian sesungguhnya langgeng datangnya Al Jam’u adalah jarang sekali, dan tetkala langgeng tampak perkara-perkara yang menakjubkan dan aneh.
Sedangkan Al Kamil ialah orang yang menggabungkan diantara Alloh Al Haq dan mahluk, dhohirnya ia bersama mahluk sedangkan bathinnya bersama Al Haq Azza Wajalla, itulah derajat para nabi , shoddiqin dan Auliyaul kamiliin.[14] Tiada sesuatu pun yang lebih membantu terhadap seorang hamba untuk sampai kepada Alloh SWT kecuali dengan memperbanyak dzikir pada Alloh serta melaksanakan perintah dan larangannya disamping juga menampakkan kerendahan dan merasa butuh serta melepaskan diri dari daya kekuatannya dikembalikan pada daya kekuatan Alloh, serta melihat keutamaan dan anugerah Alloh SWT.
Sebagaimana dikatakan Syekh Abu Alhasan RA, Ia berkata : Al Arif yaitu orang yang mengetahui kekuatan waktu Pada taufiq dan kebajikan Alloh yang berlaku dari Alloh padanya serta tenggelam kejelekannya dalam kebajikan Alloh SWT.sedangkan Alhaqoiq adalah maani yang berada dalam hati dan sesuatu yang jelas dan tersingkap dalam hati dari kegaiban yaitu anugerah pemberian Alloh dan karomah, yang dengan haqoiq tersebut seorang telah sampai pada kesalehan dan ketaatan.[15]

B. EPILOG
Dalam penjabaran diatas kiranya dapat kita ambil garis besar bahwa syari’at adalah undang-undang Alloh yang berisi tentang perintah dan larangan Alloh yang termaktub dalam Al kitab dan Assunnah, yang dalam bentuk konkritnya terbagi menjadi menjadi tigal hal yaitu ilmu tauhid, ilmu fiqih dan ilmu tasawwuf yang mana semua harus dipelajari oleh seorang muslim agar Ia tidak terjerumus pada jurang kesesatan yang semakin menjauh dari jalan Alloh SWT, sebagaimana kalau kita ibaratkan rambu-rambu lalu lintas maka disitu ada lampu kuning yang menunjukkan arti siap-siap atau hati- hati, lampu hijau menunjukkan makna jalan terus dan lampu merah menunjukkan makna larangan. Kalau seseorang melanggar aturan lalu lintas tersebut maka pastilah Ia dapat peluit dari polisi karna pelanggarannya, begitu juga As salik ketika berjalan menuju Alloh dengan mengikuti jalan dan aturan-aturan Alloh maka Ia akan dapat berjalan dengan cepat dan mulus untuk sampai pada yang dimaksu yaitu Alloh SWT dengan tanpa adanya halangan dan rintangan.
Sedangkan thorikot adalah bagaimana melaksanakan Amal ibadah yang diperinatahkan oleh Alloh, dhohir maupun bathin, mahdloh maupun ghairu mahdlo secara baik, bagus dan benar, yang mana semua itu dapat dilakukan dengan hati-hati dan waspada dengan melakukan mujahadatu Annafsi dimana dengan menekan kesenangan nafsu dan menguasai dirinya ia dapat mengendalikan dirinya bukan malah sebaliknya ia dikendalikan nafsu dengan bisikan-bisikan syetan yang berusaha untuk membelokkan imannya dalam kekufuran. Begitu juga dengan menjauhi barang-barang syubhat karna dengan memakan ataupun menggunakan barang subhat, maka sesungguhnya itu menjadikan hambatan dalam diri seorang salik yang berimplikasi pada berat melakukan amal kebaikan dan senang menuruti keinginan nafsu, tentunya juga semua amal tersebut dilakukan dengan sabar dan yakin dengan petunjuk Alloh SWT.
pada ahkhirnya seolang mukmin salikiin ila Alloh ketika mau melaksanakan itu semua, maka Ia akan menuai buahnya berupa haqiqot yaitu ma’rifat billah melihat Alloh dengan hatinya, yang mana di akherat melihatnya dengan mata. Sebagaimana telah mashur dikalangan Arifin Hakikat tanpa syari’at adalah batal, begitupula syari’at tanpa haqiqot adalah terabaikan ( sia-sia ).
Kiranya sampai disinilah makalah kajian ini, saya selaku penulis hanya bisa menyampaikan apa adanya sesuai dengan kadar pengetahuan penulis, semua itu karma keterbatasan pengetahuan dan keilmuan penulis. Tentunya makalah ini bukannya segalanya tetapi hanya sebagai sekedar stimulan untuk membuka cakrawala pemikiran kita yang melaju pada pengamalan bisidqi wal ikhlas. Akhirnya saya berdo’a semoga Alloh SWT membukakan hati kita sebagaimana hati para arifin dan memudahkan kita segala urusan amal kebaikan baik agama dunia maupun akherat. Amiin ya Rabbal Alamin.


[1] ). Makalah ini disampaikan oleh Virdho El Gres.dalam forum kajian sufistik PW HIPMI ( Himpunan pelajar dan Mahasiswa di Yaman ) Hadromaut.
[2] ). Syekh Muhammad Jamaluddin bin Ahmad, At Thoriq Ila Alloh, Pustaka Muhibbin, Jombang, Hal.02, Thn.2006.
[3] ). Al Allamah Al Muhaqqiq Adda’I Ila Alloh Habib Zein bin Ibrohim bin Smith, Al Manhaj Assawy, Darul Ilmi Wadda’wah, Tarim Hadromaut, Cet. 01, Hal.489, Thn. 2005.
[4] ). Al Allamah Al Muhaqqiq Adda’I Ila Alloh Habib Zein bin Ibrohim bin Smith, Al Manhaj Assawy, Darul Ilmi Wadda’wah, Tarim Hadromaut, Cet. 01, Hal.490, Thn. 2005.
[5] ). Al Allamah Al Muhaqqiq Adda’I Ila Alloh Habib Zein bin Ibrohim bin Smith, Al Manhaj Assawy, Darul Ilmi Wadda’wah, Tarim Hadromaut, Cet. 01, Hal.490, Thn. 2005
[6]). Al Allamah Al Muhaqqiq Adda’I Ila Alloh Habib Zein bin Ibrohim bin Smith, Al Manhaj Assawy, Darul Ilmi Wadda’wah, Tarim Hadromaut, Cet. 01, Hal.491, Thn. 2005
[7] ). Syekh Muhammad Jamaluddin bin Ahmad, At Thoriq Ila Alloh, Pustaka Muhibbin, Jombang, Hal.02, Thn.2006.

[8] ). Syekh Muhammad Jamaluddin bin Ahmad, At Thoriq Ila Alloh, Pustaka Muhibbin, Jombang, Hal.02, Thn.2006.

[9] ). Al Allamah Al Muhaqqiq Adda’I Ila Alloh Habib Zein bin Ibrohim bin Smith, Al Manhaj Assawy, Darul Ilmi Wadda’wah, Tarim Hadromaut, Cet. 01, Hal.491, Thn. 2005

[10] ). Al Allamah Al Muhaqqiq Adda’I Ila Alloh Habib Zein bin Ibrohim bin Smith, Al Manhaj Assawy, Darul Ilmi Wadda’wah, Tarim Hadromaut, Cet. 01, Hal.492, Thn. 2005


[11] ). Syekh Muhammad Jamaluddin bin Ahmad, At Thoriq Ila Alloh, Pustaka Muhibbin, Jombang, Hal.08, Thn.2006.

[12]). Syekh Muhammad Jamaluddin bin Ahmad, At Thoriq Ila Alloh, Pustaka Muhibbin, Jombang, Hal.08, Thn.2006.

[13] ). Imam Haromain Mufti Makkah Syekh Ahmad bin Zaini Dahlan Al Hasani, Taqriibu Al Usul Li tashiili Al Wusul, Muassasatu Al Kutub Asstaqofiyyah, Cet. 01. Hal. 26, Thn. 1999.
[14] ). Imam Haromain Mufti Makkah Syekh Ahmad bin Zaini Dahlan Al Hasani, Taqriibu Al Usul Li tashiili Al Wusul, Muassasatu Al Kutub Asstaqofiyyah, Cet. 01. Hal. 26, Thn. 1999
[15] ). Imam Haromain Mufti Makkah Syekh Ahmad bin Zaini Dahlan Al Hasani, Taqriibu Al Usul Li tashiili Al Wusul, Muassasatu Al Kutub Asstaqofiyyah, Cet. 01. Hal. 33, Thn. 1999

ليست هناك تعليقات: